Contoh Soal Tes Kompetensi Keahlian (TKK) Rekam Medis Kode Penyakit ICD-10

Tes Kompetensi Keahlian (TKK) Rekam Medis menjadi salah satu bentuk evaluasi untuk mengukur kemampuan peserta dalam memahami pengelolaan informasi kesehatan, termasuk membaca terminologi medis, memahami dokumentasi klinis, serta melakukan klasifikasi dan kodefikasi diagnosis. Salah satu materi penting yang perlu dikuasai adalah International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision (ICD-10) yang digunakan untuk klasifikasi diagnosis penyakit.

Persiapan menghadapi tes ini sebaiknya tidak hanya dilakukan dengan menghafal kode penyakit. Peserta juga perlu memahami hubungan antara istilah medis, singkatan klinis, diagnosis utama, diagnosis penyerta, hingga ketepatan pengkodean dalam pelayanan dan pembiayaan kesehatan. Oleh karena itu, artikel ini menyediakan rangkuman materi, kisi-kisi, serta contoh soal TKK Rekam Medis ICD-10 lengkap dengan jawaban dan pembahasan.

Mengenal Tes Kompetensi Keahlian Rekam Medis

Kompetensi di bidang rekam medis berkaitan erat dengan kemampuan mengelola informasi kesehatan secara akurat. Dalam praktik pelayanan kesehatan, dokumentasi yang dibuat tenaga kesehatan perlu diolah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kesinambungan pelayanan hingga pelaporan dan pembiayaan.

Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 mengatur penyelenggaraan Rekam Medis di fasilitas pelayanan kesehatan. Peraturan tersebut juga menjadi bagian penting dari transformasi menuju Rekam Medis Elektronik di Indonesia.

Dalam aspek klasifikasi diagnosis, petugas perlu memahami ICD-10. Dokumentasi SATUSEHAT Kementerian Kesehatan menyebutkan penggunaan ICD-10 versi 2010 untuk pengkodean diagnosis, sedangkan prosedur atau tindakan medis menggunakan ICD-9-CM versi 2010.

Karena itu, beberapa kemampuan yang dapat dipelajari untuk menghadapi tes kompetensi rekam medis meliputi:

  • memahami terminologi medis;
  • memahami singkatan klinis berdasarkan konteks;
  • membaca dan menginterpretasikan diagnosis;
  • memahami struktur klasifikasi ICD-10;
  • menentukan diagnosis utama berdasarkan dokumentasi;
  • membedakan diagnosis utama dan kondisi lain yang relevan;
  • memahami hubungan diagnosis dengan tindakan;
  • serta memeriksa ketepatan dan konsistensi data untuk kebutuhan pelayanan maupun klaim.

Materi TKK Rekam Medis yang Perlu Dipelajari

1. Terminologi Medis

Terminologi medis merupakan bahasa yang digunakan untuk menggambarkan kondisi pasien, bagian tubuh, penyakit, gejala, tindakan, dan berbagai informasi klinis lainnya.

Pemahaman terminologi menjadi dasar sebelum melakukan pengkodean. Kesalahan menginterpretasikan istilah dapat menyebabkan pemilihan kategori diagnosis yang tidak tepat.

Beberapa unsur yang sering ditemukan adalah prefix, root, dan suffix.

Sebagai contoh:

  • cardio berkaitan dengan jantung;
  • neuro berkaitan dengan saraf;
  • gastro berkaitan dengan lambung;
  • hepato berkaitan dengan hati;
  • nephro berkaitan dengan ginjal;
  • -itis biasanya menunjukkan peradangan;
  • -ectomy berkaitan dengan pengangkatan melalui tindakan operasi;
  • -algia berarti nyeri.

Contohnya, istilah gastritis mengacu pada peradangan pada lambung. Pemahaman seperti ini membantu peserta memahami makna diagnosis sebelum mencari klasifikasinya.

2. Singkatan Klinis

Dokumentasi pelayanan kesehatan dapat mengandung singkatan klinis. Peserta perlu memahami singkatan berdasarkan konteks dan tidak sekadar menebak artinya.

Beberapa contoh yang umum dijumpai dalam pembelajaran antara lain:

SingkatanIstilah
DMDiabetes Mellitus
HT/HTNHypertension
CKDChronic Kidney Disease
CHFCongestive Heart Failure
COPDChronic Obstructive Pulmonary Disease
TBTuberculosis

Namun, singkatan dapat memiliki arti berbeda tergantung konteks. Karena itu, dalam praktik nyata coder perlu mengacu pada dokumentasi yang tersedia dan kebijakan singkatan yang berlaku di fasilitas pelayanan kesehatan.

3. Klasifikasi Penyakit ICD-10

ICD-10 merupakan sistem klasifikasi penyakit dan masalah kesehatan yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO).

Dalam proses pengkodean, peserta sebaiknya memahami bahwa menentukan kode bukan sekadar mencocokkan satu kata diagnosis dengan satu kode.

Coder perlu memperhatikan informasi klinis yang didokumentasikan, termasuk lokasi penyakit, karakteristik tertentu, komplikasi, serta keterangan lain yang memengaruhi klasifikasi.

Contoh kategori yang cukup familiar:

  • I10 — Essential (primary) hypertension
  • E11 — Type 2 diabetes mellitus
  • J45 — Asthma
  • K29 — Gastritis and duodenitis

Kode yang lebih spesifik harus dipilih berdasarkan informasi yang benar-benar tersedia pada dokumentasi dan aturan klasifikasi yang berlaku.

Memahami Diagnosis Utama

Salah satu materi yang cukup penting adalah menentukan diagnosis utama.

Peserta tidak boleh otomatis memilih penyakit yang terlihat paling berat sebagai diagnosis utama. Penentuan kondisi utama harus memperhatikan alasan pasien mendapatkan pelayanan, hasil evaluasi setelah episode pelayanan, serta aturan yang berlaku.

Pedoman ICD-10 WHO untuk pencatatan morbiditas pada prinsipnya mendefinisikan main condition sebagai kondisi yang setelah episode pelayanan dinilai terutama bertanggung jawab terhadap kebutuhan pasien akan pengobatan atau pemeriksaan.

Karena itu, soal TKK dapat berbentuk studi kasus.

Misalnya, pasien mempunyai beberapa penyakit sekaligus. Peserta kemudian diminta menganalisis dokumentasi untuk menentukan kondisi utama dan kondisi lain yang relevan.

Kemampuan ini lebih penting dibanding sekadar menghafal ratusan kode ICD-10.

Koding dalam Konteks Klaim BPJS Kesehatan

Dalam pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional, ketepatan dokumentasi dan pengkodean memiliki peran penting dalam proses klaim.

Coder tidak seharusnya menambahkan diagnosis hanya untuk menghasilkan nilai klaim tertentu. Diagnosis harus didukung oleh dokumentasi klinis dan proses pengkodean perlu mengikuti ketentuan yang berlaku.

Peserta sebaiknya memahami alur sederhananya:

Dokumentasi klinis → identifikasi diagnosis → penentuan diagnosis utama dan kondisi lain → klasifikasi/kode → pemeriksaan konsistensi data → proses klaim.

Karena itu, soal mengenai koding BPJS lebih tepat diberikan dalam bentuk analisis kasus daripada sekadar pertanyaan hafalan.

Kisi-Kisi TKK Rekam Medis ICD-10

Berikut gambaran materi yang dapat digunakan sebagai bahan latihan:

MateriKompetensi yang DiujiBentuk Latihan
Terminologi medisMemahami istilah klinisInterpretasi istilah
Prefix, root, suffixMemahami pembentukan istilah medisPilihan ganda
Singkatan klinisMenginterpretasikan singkatanStudi kasus
ICD-10Memahami klasifikasi diagnosisPilihan ganda
Diagnosis utamaMenentukan kondisi utamaStudi kasus
Kondisi lainMengidentifikasi diagnosis lain yang relevanAnalisis kasus
Dokumentasi klinisMembaca informasi pasienStudi kasus
Ketepatan kodeMemilih kode berdasarkan dokumentasiAnalisis
Klaim JKN/BPJSMemahami konsistensi diagnosis dan dokumentasiStudi kasus
KetelitianMenemukan ketidaksesuaian dataProblem solving

20 Contoh Soal TKK Rekam Medis ICD-10 dan Pembahasan

Soal 1

Dalam terminologi medis, suffix “-itis” umumnya menunjukkan….

A. Nyeri
B. Peradangan
C. Pengangkatan organ
D. Pembesaran
E. Pemeriksaan

Jawaban: B

Pembahasan:
Suffix -itis umumnya digunakan untuk menunjukkan proses inflamasi atau peradangan. Contohnya gastritis, dermatitis, dan tonsillitis.

Soal 2

Istilah nephro berhubungan dengan organ….

A. Hati
B. Paru-paru
C. Ginjal
D. Lambung
E. Jantung

Jawaban: C

Pembahasan:
Nephro- merupakan bentuk yang berkaitan dengan ginjal. Istilah ini dapat ditemukan pada berbagai terminologi medis yang berkaitan dengan sistem renal.

Soal 3

Istilah cardiology berkaitan dengan….

A. Sistem saraf
B. Jantung
C. Kulit
D. Tulang
E. Ginjal

Jawaban: B

Pembahasan:
Cardio mengacu pada jantung, sedangkan -logy berkaitan dengan ilmu atau bidang studi. Cardiology adalah bidang kedokteran yang mempelajari jantung dan sistem kardiovaskular.

Soal 4

Istilah hepatitis menunjukkan kondisi yang berkaitan dengan….

A. Peradangan hati
B. Infeksi ginjal
C. Pembesaran jantung
D. Gangguan lambung
E. Nyeri sendi

Jawaban: A

Pembahasan:
Hepat- berkaitan dengan hati dan -itis berarti peradangan. Dengan demikian, hepatitis berarti peradangan hati.

Soal 5

Suffix “-ectomy” paling tepat berkaitan dengan….

A. Pemeriksaan visual
B. Peradangan
C. Pengangkatan melalui tindakan operasi
D. Nyeri
E. Pembengkakan

Jawaban: C

Pembahasan:
Ectomy digunakan dalam terminologi medis untuk menunjukkan pengangkatan atau eksisi melalui prosedur operasi.

Soal 6

Dalam konteks diagnosis penyakit, singkatan DM lazim digunakan untuk….

A. Diabetes Mellitus
B. Diagnostic Method
C. Disease Monitoring
D. Dermatitis Medical
E. Drug Management

Jawaban: A

Pembahasan:
DM lazim digunakan sebagai singkatan Diabetes Mellitus. Namun, coder tetap perlu membaca keseluruhan dokumentasi untuk mengetahui tipe maupun komplikasi yang dicatat.

Soal 7

Singkatan CKD umumnya berarti….

A. Chronic Kidney Disease
B. Clinical Kidney Diagnosis
C. Chronic Knee Disease
D. Cardiac Kidney Disorder
E. Clinical Known Disease

Jawaban: A

Pembahasan:
CKD merupakan singkatan dari Chronic Kidney Disease atau penyakit ginjal kronis.

Soal 8

Singkatan COPD merujuk pada….

A. Penyakit paru obstruktif kronis
B. Penyakit ginjal kronis
C. Gangguan jantung bawaan
D. Infeksi saluran cerna
E. Hipertensi primer

Jawaban: A

Pembahasan:
COPD adalah Chronic Obstructive Pulmonary Disease, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Soal 9

Jika menemukan singkatan yang memiliki lebih dari satu kemungkinan arti, tindakan paling tepat adalah….

A. Memilih arti yang paling umum
B. Menentukan berdasarkan perkiraan
C. Melihat konteks dokumentasi dan ketentuan fasilitas kesehatan
D. Mengabaikan diagnosis
E. Memilih kode dengan tarif terbesar

Jawaban: C

Pembahasan:
Singkatan dapat bersifat ambigu. Karena itu, interpretasinya harus mempertimbangkan konteks dokumentasi serta standar atau kebijakan yang berlaku.

Soal 10

Tujuan utama memahami terminologi medis sebelum melakukan pengkodean adalah….

A. Mempercepat pengisian tanpa membaca rekam medis
B. Memahami makna diagnosis secara tepat
C. Menggantikan diagnosis dokter
D. Menentukan biaya pelayanan
E. Menambah diagnosis pasien

Jawaban: B

Pembahasan:
Coder perlu memahami makna diagnosis sebelum menentukan klasifikasi. Salah menginterpretasikan istilah dapat menyebabkan kesalahan pengkodean.

Soal 11

Kategori ICD-10 I10 menunjukkan….

A. Type 2 diabetes mellitus
B. Essential (primary) hypertension
C. Asthma
D. Gastritis
E. Pneumonia

Jawaban: B

Pembahasan:
I10 merupakan kode kategori untuk essential (primary) hypertension atau hipertensi esensial/primer.

Soal 12

Kategori ICD-10 yang berkaitan dengan Type 2 diabetes mellitus adalah….

A. E10
B. E11
C. I10
D. J45
E. K29

Jawaban: B

Pembahasan:
Kategori E11 digunakan untuk Type 2 diabetes mellitus. Pemilihan subkategori yang lebih spesifik bergantung pada komplikasi atau manifestasi yang didokumentasikan.

Soal 13

Kode kategori J45 berkaitan dengan….

A. Asthma
B. Hypertension
C. Diabetes mellitus
D. Gastritis
E. Chronic kidney disease

Jawaban: A

Pembahasan:
J45 merupakan kategori ICD-10 untuk asthma. Penentuan kode lebih spesifik tetap mengikuti jenis atau informasi yang tercantum dalam dokumentasi.

Soal 14

Seorang coder menemukan diagnosis yang belum cukup spesifik untuk menentukan kode akhir. Langkah paling tepat adalah….

A. Mengarang diagnosis yang lebih lengkap
B. Memilih kode secara acak
C. Mengikuti dokumentasi dan melakukan klarifikasi sesuai prosedur bila diperlukan
D. Memilih kode dengan nilai klaim terbesar
E. Menghapus diagnosis

Jawaban: C

Pembahasan:
Kode harus didukung dokumentasi. Coder tidak boleh membuat asumsi klinis sendiri untuk memperoleh kode yang lebih spesifik.

Soal 15

Dalam menentukan kode ICD-10, informasi yang paling penting digunakan adalah….

A. Diagnosis dan dokumentasi klinis yang tersedia
B. Perkiraan coder
C. Besarnya tarif pelayanan
D. Keinginan pasien
E. Jumlah hari rawat saja

Jawaban: A

Pembahasan:
Pengkodean harus berdasarkan diagnosis dan informasi klinis yang terdokumentasi serta mengikuti aturan klasifikasi yang berlaku.

Soal 16

Seorang pasien mempunyai tiga kondisi yang tercatat selama perawatan. Dalam menentukan diagnosis utama, coder sebaiknya….

A. Selalu memilih penyakit dengan kode terpanjang
B. Memilih penyakit yang tarifnya paling tinggi
C. Mengikuti dokumentasi dan aturan penentuan kondisi utama
D. Memilih penyakit kronis
E. Memilih diagnosis pertama yang terlihat

Jawaban: C

Pembahasan:
Diagnosis utama tidak ditentukan berdasarkan panjang kode, besarnya tarif, ataupun sekadar urutan tulisan. Pemilihannya harus mengikuti dokumentasi klinis dan aturan yang berlaku.

Soal 17

Pasien datang dengan beberapa keluhan dan setelah pemeriksaan dokter menetapkan suatu kondisi sebagai kondisi yang terutama bertanggung jawab terhadap pelayanan yang diberikan. Kondisi tersebut paling mungkin dipertimbangkan sebagai….

A. Diagnosis utama
B. Riwayat keluarga
C. Faktor administratif
D. Diagnosis sementara yang harus selalu dihapus
E. Tindakan medis

Jawaban: A

Pembahasan:
Dalam pencatatan morbiditas, kondisi utama berkaitan dengan kondisi yang setelah episode pelayanan terutama bertanggung jawab terhadap kebutuhan pasien memperoleh pemeriksaan atau pengobatan.

Soal 18

Seorang coder menemukan perbedaan informasi antara bagian-bagian dokumentasi yang berpengaruh terhadap penentuan kode. Tindakan yang paling tepat adalah….

A. Mengambil kode yang paling menguntungkan
B. Membuat kesimpulan klinis sendiri
C. Melakukan verifikasi atau klarifikasi sesuai prosedur
D. Menghapus semua diagnosis
E. Mengganti diagnosis dokter

Jawaban: C

Pembahasan:
Ketidaksesuaian dokumentasi perlu ditangani melalui proses verifikasi atau klarifikasi sesuai prosedur fasilitas pelayanan kesehatan. Coder tidak seharusnya membuat diagnosis klinis sendiri.

Soal 19

Dalam konteks klaim JKN, seorang coder menemukan bahwa diagnosis tambahan tidak memiliki dokumentasi pendukung yang memadai. Langkah yang paling tepat adalah….

A. Tetap memasukkannya agar klaim lebih besar
B. Menambahkan komplikasi sendiri
C. Memastikan kembali dokumentasi dan mengikuti ketentuan pengkodean
D. Mengubah diagnosis utama
E. Membuat catatan klinis baru atas nama dokter

Jawaban: C

Pembahasan:
Diagnosis yang digunakan dalam pengkodean harus didukung dokumentasi yang sesuai. Ketepatan dan integritas data lebih penting daripada upaya meningkatkan nilai klaim.

Soal 20

Manakah urutan yang paling logis dalam proses pengkodean diagnosis?

A. Memilih tarif → menentukan kode → membaca diagnosis
B. Membaca dokumentasi → memahami diagnosis → menentukan klasifikasi/kode → melakukan verifikasi
C. Menentukan kode → membuat diagnosis → membaca rekam medis
D. Membaca tarif → memilih diagnosis → menentukan penyakit
E. Menentukan klaim → menambahkan diagnosis → mencari kode

Jawaban: B

Pembahasan:
Coder harus terlebih dahulu membaca dokumentasi dan memahami diagnosis. Setelah itu, diagnosis diklasifikasikan menggunakan standar yang sesuai dan hasil pengkodean diperiksa kembali untuk memastikan ketepatannya.

Tips Mengerjakan Soal TKK Rekam Medis

Menghadapi soal TKK Rekam Medis membutuhkan kombinasi antara pengetahuan dan ketelitian. Jangan hanya menghafal daftar kode ICD-10 karena soal berbasis kasus dapat menuntut kemampuan menganalisis informasi klinis.

Biasakan membaca kasus secara keseluruhan sebelum memilih jawaban. Perhatikan diagnosis, kondisi pasien, komplikasi yang benar-benar terdokumentasi, serta informasi lain yang memengaruhi klasifikasi.

Selain itu, pelajari terminologi medis secara bertahap. Memahami arti prefix, root, dan suffix dapat membantu mengenali istilah medis yang sebelumnya belum pernah ditemui.

Untuk materi ICD-10, pahami terlebih dahulu struktur klasifikasinya dan kemudian berlatih dengan berbagai contoh kasus. Dalam penggunaan profesional, kode akhir harus diverifikasi menggunakan sumber ICD-10 dan pedoman resmi yang berlaku.

Kesimpulan

Tes Kompetensi Keahlian Rekam Medis tidak hanya menguji kemampuan menghafal kode penyakit. Peserta juga perlu memahami terminologi medis, singkatan klinis, struktur ICD-10, penentuan diagnosis utama, dokumentasi klinis, serta prinsip ketepatan pengkodean dalam pelayanan dan klaim JKN/BPJS.

Latihan soal berbasis kasus dapat membantu meningkatkan kemampuan analisis karena peserta belajar menghubungkan informasi klinis dengan proses klasifikasi. Semakin sering berlatih membaca dokumentasi dan menentukan diagnosis serta kode secara sistematis, semakin terbiasa pula peserta menghadapi variasi soal kompetensi Rekam Medis.

Referensi utama: WHO ICD-10 Volume 2; SATUSEHAT Kementerian Kesehatan RI – Terminologi ICD-10 dan Standar Terminologi; Permenkes RI Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis.

Tags :
Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Categories

Latest Post